Menyambut Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia Tahun 2022

Negara Indonesia telah masuk menjadi anggota Konvensi Ramsar pada tahun 1991 dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Ratifikasi Konvensi Ramsar di Indonesia. Berdasarkan penandatanganan Konvensi Lahan Basah pada tanggal 2 Februari 1971 di Kota Ramsar (Iran) diperingati setiap tahun pada tanggal 2 Februari Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day)

Terdapat dua jenis lahan secara umum di Indonesia, yaitu lahan basah dan lahan kering. Dari kedua lahan tersebut, lahan basah memiliki keanekaragaman hayati lebih tinggi dibandingkan dengan lahan kering. Hal ini, karena adanya perpaduan antara ekosistem perairan dan daratan pada lahan basah.

Lahan Basah dalam Bahasa inggris disebut dengan wetland. Yang dimana wet artinya basah dan land artinya tanah atau lahan. Tetapi dalam bahasa Perancis para pakar menggunakan istilah Zone Humides. Lahan basah adalah suatu wilayah yang tanahnya tergenang air karena keadaan tanah yang jenuh terhadap air, baik secara permanen maupun musiman. Genangan air tersebut biasanya dapat berupa air mengalir ataupun diam.

Pada 27-28 Maret 2018 Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bekerja sama dengan Wetlands International Indonesia (WII) menyelenggarakan Seminar Nasional Strategi Pencegahan dan Penanggulangan Penurunan Muka Tanah di Lahan Basah Pesisir. Seminar ini membahas mengenai berbagai fakta, tantangan yang dihadapi, serta potensi untuk menghadapi fenomena maupun menanggulangi dampak dari penurunan muka tanah akibat pengeringan lahan basah (wetlands) sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap maupun pemahaman yang benar di berbagai kalangan masyarakat.

Agung Kuswandono selaku Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman mengatakan bahwa kondisi lahan basah Indonesia telah mengalami kerusakan. “Kondisi lahan basah kita sudah banyak yang rusak, mangrove kita total 52% rusak bahkan di pantura ada 85% yang sudah hilang dan rusak berubah menjadi perumahan, tambak ikan. Sudah lenyap. Beberapa tempat air lautnya sudah naik. Menghilangkan tanah-tanah yang menjadi lahan basah. Ada tinggal beberapa tempat yang mangrovenya masih bagus dan dapat menjadi tempat wisata.”

Diperkirakan sekitar 30 juta hektar dataran rendah pesisir di Indonesia terdiri dari berbagai ekosistem lahan basah, seperti ekosistem mangrove, ekosistem gambut, ekosistem muara sungai, ekosistem laguna, ekosistem pertambakan, dan lahan pertanian pasang surut, yang berlokasi sebagian besarnya tidak jauh dari wilayah permukiman dengan elevasi dari permukaan laut kurang dari 30 meter. Berbagai ekosistem tersebut memiliki nilai dan manfaat serta jasa lingkungan yang sangat luas bagi mahluk hidup, di antaranya sebagai habitat atau tempat tinggal berbagai mahluk hidup, pencegah intrusi air laut, penyimpan air tawar, cadangan karbon yang sangat besar serta untuk mitigasi kebencanaan terkait potensi bahaya tsunami.

https://maritim.go.id/seminar-nasional-strategi-pencegahan-dan-penanggulangan-penurunan-muka-tanah-di-lahan-basah-pesisir/

JAKARTA BARAT WEATHER

Artikel
Lainnya